TOPINDIATOURS Hot gadget: Sinopsis Predator: Badlands, Ketika Pemburu Menjadi Sosok yang D

📌 TOPINDIATOURS Hot gadget: Sinopsis Predator: Badlands, Ketika Pemburu Menjadi So

Jakarta, Gizmologi – 20th Century Studios mempersembahkan film Predator: Badlands, yang disutradarai kembali oleh Dan Trachtenberg. Ia sempat menyutradarai film semesta Predator lain sebelumnya yaitu Prey dan Predator: Killer of Killers.

Film Predator: Badlands merupakan babak terbaru dari semesta Predator yang kini berfokus pada sisi lain dari sang makhluk legendaris. Babak baru ini akan menggali lebih cerita dari semesta ini dengan menghadirkan kedalaman emosi di balik salah satu spesies paling ikonik di dunia fiksi ilmiah.

“Ini adalah film pertama dalam semesta Predator yang sepenuhnya berfokus pada spesies Yautja,” ujar Trachtenberg.

Baca Juga: Sinopsis Abadi Nan Jaya, Film Zombie dengan Kearifan Lokal Budaya Indonesia

Sinopsis Film Predator: Badlands, Berfokus ke Dek

Film Predator: Badlands membawa penonton ke planet berbahaya Genna, tempat seorang Predator muda bernama Dek berjuang untuk membuktikan dirinya. Dalam perjalanan tersebut ia menemukan sekutu tak terduga Thia, robot yang rusak.

Meski rusak, Thia merupakan robot yang berjiwa kuat. Bersama-sama, mereka menempuh perjalanan berbahaya melintasi planet Genna demi mencari lawan utama, makhluk tak terkalahkan bernama Kalisk.

“Untuk pertama kalinya, penonton akan mengikuti sudut pandang sang monster. Dek merupakan sosok terlemah di klannya, di ambang pengasingan, dan harus membuktikan dirinya dengan memburu makhluk paling berbahaya di galaksi,” jelas Trachtenberg.

Film ini dibintangi oleh pendatang baru Dimitrius Schuster-Koloamatangi sebagai Dek serta Elle Fanning sebagai Thia. Dimitrius Schuster-Koloamatangi berhasil menghadirkan performa fisik dan emosional luar biasa sehingga membuat sosok Yautja terasa hidup dan manusiawi. Sedangkan, Elle Fanning, yang merupakan penggemar dari Prey, juga sangat senang bergabung menjadi bagian dari film ini.

“Naskahnya sangat mengejutkan. Thia digambarkan sebagai robot yang tidak punya kaki dan berwujud ‘ransel’. Ini merupakan tantangan baru bagiku dan semangat yang Trachtenberg miliki menjadi motivasi aku untuk total dalam peran ini,” ungkap Fanning.

Film Predator: Badlands juga memperkenalkan Kalisk sebagai lawan utama yang merupakan sosok makhluk yang tak terkalahkan. Untuk mewujudkan karakter ini, Creature Designer legendaris Alec Gillis, yang memulai karirnya dalam film Alien dan Predator pertama di bawah bimbingan maestro efek spesial Stan Winston, kembali berkolaborasi dengan Trachtenberg setelah sebelumnya bekerja sama dalam film Prey.

Bersama tim Wētā FX, Gillis merancang sosok Kalisk dengan inspirasi dari berbagai makhluk nyata maupun fiksi, termasuk karakter-karakter imajinatif dari film Hayao Miyazaki, video game legendaris Shadow of the Colossus, serta biota laut dalam dari dunia nyata. Dari sisi efek visual, Olivier Dumont (“Doctor Strange in the Multiverse of Madness”) menghadirkan visual menakjubkan dengan bantuan studio legendaris seperti Wētā Workshop, Framestore, dan ILM.

Dengan menghadirkan sudut pandang baru dari seorang Predator, Trachtenberg berharap penonton dapat membangun koneksi emosional dengan para karakter dalam film ini. Predator: Badlands diproduseri oleh John Davis, Dan Trachtenberg, Marc Toberoff, Ben Rosenblatt, dan Brent O’Connor.

Film Predator: Badlands sudah tayang di bioskop Indonesia. Film ini hadir dalam berbagai format premium seperti IMAX, 4DX, dan ScreenX di seluruh bioskop indonesia.

Artikel berjudul Sinopsis Predator: Badlands, Ketika Pemburu Menjadi Sosok yang Diburu yang ditulis oleh Zihan Fajrin pertama kali tampil di Gizmologi.id

🔗 Sumber: www.gizmologi.com


📌 TOPINDIATOURS Breaking gadget: Apa Itu Sertifikasi Influencer? Sedang Dikaji Kom

Jakarta, Gizmologi – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang merencanakan regulasi untuk konten kreator agar memiliki sertifikasi influencer. Sertifikasi ini berguna untuk membuat konten terkait topik tertentu.

Sertifikasi influencer diadaptasi dari kepemerintahan China. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan pihak Kementerian kerap memantau kebijakan baru dari negara-negara tetangga dan tren global dalam melindungi masyarakat di ekosistem digital. Seperti, PP Tunas yang dibuat dari mempelajari peraturan Australia dalam membatasi usia anak menggunakan media sosial.

“Informasi ini masih baru, kami masih kaji dulu memang. Dan ini menarik, ya kami ada WA (WhatsApp), kami lagi bahas gimana ini, isu ini, ada negara yang sudah mengeluarkan kebijakan baru nih. Nah, kami masih kaji,” ujar Bonifasius pada Jumat (31/10).

Baca Juga: Komdigi: Fotografer di Ruang Terbuka, Perhatikan Aspek Hukum dan Etika

Pengertian Sertifikasi Influencer yang Masih dalam Tahap Kajian

Ilustrasi content creator (Foto: 123rf/weedezign)

Sertifikasi influencer yang sudah disusun oleh pemerintah China merupakan sebuah aturan yang mewajibkan setiap influencer untuk memiliki gelar sarjana di bidang topik yang mereka bahas dalam konten. Meski sudah dilaksanakan di China, tentu aturan tersebut perlu dikaji dan bagaimana penerapannya di Indonesia.

Menurutnya, dalam menyusun sertifikasi influencer ini perlu memperhatikan berbagai aspek dalam penerapannya, menyasar siapa saja dan seperti apa pengukuran leveling grade-nya. Selain itu, pemerintah juga berupaya dalam mencegah  penyebaran konten yang bersifat misinformasi, namun tidak sampai mengekang kebebasan masyarakat di ruang digital. Oleh karena itu, pihak Komdigi membuka peluang untuk berdiksusi dengan berbagai pihak dalam mengkaji aturan tersebut.

Bonifasius Pudjianto, Kepala Badan Perkembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital.

“Masukan dari teman-teman itu yang paling penting sebenarnya. Kita harus mendengar. Kalau perlu (sertifikasi influencer dibuat) oke, tapi gimana? Seperti apa? Kemudian, kan pasti ada leveling grade-nya. Seperti apa kalau kita ukur? Menyasar siapa saja, karena sekarang yang jadi konten kreator banyak banget. Ibaratnya setiap individu bisa menjadi konten kreator,” jelasnya.

Bonifasius menegaskan bahwa pihaknya belum memutuskan apapun terkait sertifikasi influencer. Sebab, masih banyak yang harus dijajaki.

Tanggapan Pihak YouTube Mengenai Sertifikasi Influencer

Ilustrasi YouTuber (sumber: Pixabay)

Pihak YouTube Indonesia juga ikut menanggapi rencana sertifikasi influencer untuk konten kreator. Country Director Google Indonesia Veroncia Utami menyambut baik wacana sertifikasi influencer oleh Komdigi.

Veronica melihat bahwa dengan adanya sertifikasi influencer, profesi seperti konten kreator dianggap serius. Serupa dengan financial planner.

I believe that any form of upskilling is going to be postive. Karena kan berarti kita memastikan memang siapa pun yang ingin jadi konten kreator tuh tahu, cara dan trik-tiknya. In a way it puts people on a similar starting point gitu ya, ada standarisasi kemampuan minimal gitu ya untuk bisa berhasil menjadi konten kreator,” ungkap Veronica dalam acara konferensi pers Youtube Festival 2025 di Jakarta, Rabu (5/11).

Artikel berjudul Apa Itu Sertifikasi Influencer? Sedang Dikaji Komdigi hadir di Indonesia yang ditulis oleh Zihan Fajrin pertama kali tampil di Gizmologi.id

🔗 Sumber: www.gizmologi.com


🤖 Catatan TOPINDIATOURS

Artikel ini adalah rangkuman otomatis dari beberapa sumber terpercaya. Kami pilih topik yang sedang tren agar kamu selalu update tanpa ketinggalan.

✅ Update berikutnya dalam 30 menit — tema random menanti!