📌 TOPINDIATOURS Eksklusif gadget: Tomb Raider: Catalyst Siap Hadir 2027, Cerita Te
Jakarta, Gizmologi – Crystal Dynamics akhirnya membawa kabar besar bagi para penggemar Lara Croft. Tomb Raider terbaru, yang dibangun menggunakan Unreal Engine 5, kini resmi berjudul Tomb Raider: Catalyst dan dijadwalkan rilis pada 2027 untuk PC, PS5, dan Xbox Series X|S. Pengumuman ini disertai trailer perdana yang tayang di panggung The Game Awards 2025, memberikan gambaran awal tentang arah baru petualangan sang arkeolog ikonik.
Dalam trailer tersebut, Lara tampil dengan gaya yang lebih modern namun tetap mempertahankan ciri khasnya, mulai dari sikap tegas hingga kembalinya dual pistols yang selama ini dirindukan fans. Crystal Dynamics juga memperkenalkan alat baru berupa wrist-mounted grappling hook, yang tampaknya akan memainkan peran penting dalam navigasi dan pertarungan. Perubahan ini memberi kesan bahwa Catalyst akan mendorong gameplay yang lebih dinamis, meski belum jelas seberapa besar porsi aksi dibanding eksplorasi klasik.
Walau hype Catalyst terasa besar, selalu ada kekhawatiran apakah Crystal Dynamics mampu menjaga identitas franchise yang telah berjalan hampir tiga dekade. Unreal Engine 5 jelas menawarkan fondasi visual kuat.
Baca Juga: Xbox Wireless Controller Fallout Pip-Boy Edition, Hadirkan Nuansa Wasteland
Kisah Baru dan Ancaman Mitologis
Crystal Dynamics memaparkan sedikit premis Catalyst, yang berlatar setelah sebuah bencana mitologis memicu bangkitnya kekuatan kuno. Dunia di sekitar Lara mengalami keretakan, dan para pemburu harta dari penjuru dunia datang berebut rahasia yang tersembunyi. Lara harus bergerak cepat mengungkap kebenaran sambil menentukan siapa yang bisa dipercaya, karena rahasia tersebut diyakini mampu “mengubah masa depan”.
Pendekatan cerita ini memberi ruang bagi narasi yang lebih kompleks, menghadirkan konflik antartokoh serta intrik moral yang lebih dalam. Namun hal ini juga berpotensi membuat gameplay terasa terfragmentasi jika eksekusi tidak rapi.
Catalyst sepertinya ingin menghadirkan skala yang lebih besar, yang bisa jadi menarik bagi gamer modern, tetapi mungkin terasa berjarak bagi penggemar Tomb Raider klasik yang lebih menyukai petualangan intim dan puzzle lingkungan.
Legacy of Atlantis: Reimagining yang Menggoda
Crystal Dynamics dan Amazon juga mengumumkan Tomb Raider: Legacy of Atlantis, sebuah reimagining dari gim Tomb Raider pertama yang rilis pada 1996. Hadir pada 2026 untuk merayakan ulang tahun ke-30 franchise, proyek ini dikerjakan oleh Flying Wild Hog dengan dukungan Crystal Dynamics dan dibangun sepenuhnya di Unreal Engine 5.
Legacy of Atlantis tidak disebut sebagai remake, memungkinkan perubahan gameplay maupun narasi yang lebih bebas. Dari trailer-nya, fokus platforming tampak lebih kuat dibanding Catalyst, memberi petunjuk bahwa proyek ini ingin menghadirkan nuansa nostalgia sekaligus menyegarkan mekanik lama. Meski begitu, ketidakpastian tetap ada: seberapa jauh perubahan yang akan diterapkan? Dan apakah Flying Wild Hog bisa menjaga tone klasik tanpa kehilangan spirit originalnya?
Bagi penggemar, ini adalah masa yang menarik sekaligus penuh pertanyaan untuk franchise Tomb Raider. Dua proyek besar dalam dua pendekatan berbeda menjadi pertanda ambisi besar Amazon dan Crystal Dynamics. Namun sebesar apa pun klaimnya, kualitas akhir tetap akan diuji ketika gimnya akhirnya meluncur.
Artikel berjudul Tomb Raider: Catalyst Siap Hadir 2027, Cerita Terbaru Lara Croft! yang ditulis oleh Christopher Louis pertama kali tampil di Gizmologi.id
🔗 Sumber: www.gizmologi.com
📌 TOPINDIATOURS Breaking gadget: Sony Alpha A7 V Resmi untuk Pasar Indonesia, Sens
Jakarta, Gizmologi – Sony akhirnya meresmikan Alpha A7 V di Indonesia, kamera mirrorless full-frame generasi kelima yang sudah lama dinanti para fotografer dan videografer. Produk ini datang di tengah persaingan yang semakin ketat di segmen kamera hybrid, di mana kebutuhan akan performa foto dan video sama-sama tinggi terus meningkat.
Alpha A7 V diposisikan sebagai kamera serba guna yang menggabungkan kecepatan, akurasi, dan kecerdasan berbasis AI. Sony membawa sejumlah pembaruan besar, mulai dari sensor baru, prosesor generasi terkini, hingga peningkatan signifikan di sisi autofocus dan video. Di atas kertas, spesifikasinya terlihat sangat agresif untuk kelasnya.
Namun, dengan banderol harga yang tidak bisa dibilang murah, pertanyaan besarnya adalah apakah peningkatan ini benar-benar relevan untuk semua pengguna, atau justru lebih cocok untuk segmen profesional tertentu saja. Di sinilah Alpha A7 V menarik untuk dibedah lebih dalam, bukan hanya dari sisi keunggulan, tetapi juga keterbatasannya.
Baca Juga: Laporan Strava 2025: Olahraga Gantikan Doomscrolling Para Gen Z, Lari Paling Populer
Fokus AI dan Kecepatan Jadi Daya Tarik Utama
Sony Alpha A7 V mengandalkan sensor Exmor RS CMOS partially stacked 33 MP yang dipadukan dengan prosesor BIONZ XR2. Kombinasi ini memungkinkan peningkatan kecepatan readout dan performa autofocus yang diklaim lebih presisi, termasuk Real-time Recognition AF dengan cakupan hampir seluruh frame. Untuk fotografi olahraga atau satwa liar, kemampuan continuous shooting hingga 30 fps dengan tracking jelas menjadi nilai jual besar.
Di sisi lain, pendekatan ini juga menempatkan Alpha A7 V sebagai kamera yang sangat bergantung pada sistem elektronik. Penggunaan electronic shutter untuk performa maksimal berpotensi menimbulkan rolling shutter pada kondisi tertentu, sesuatu yang masih menjadi perhatian bagi fotografer yang sering memotret subjek bergerak cepat di pencahayaan ekstrem.
Video Makin Serius, Harga Ikut Naik
Untuk video, A7 V menawarkan perekaman 4K dari oversampling 7K, hingga 4K 120p dalam mode APS-C. Fitur seperti Dynamic Active Mode, Auto Framing berbasis AI, serta peningkatan audio internal menunjukkan Sony semakin serius menyasar kreator hybrid dan videografer solo.
Meski begitu, tidak semua pengguna akan membutuhkan fitur video sejauh ini. Dengan harga Rp 43 jutaan untuk body saja, A7 V bisa terasa overkill bagi fotografer murni atau kreator yang tidak membutuhkan spesifikasi video tingkat lanjut. Di titik ini, A7 V lebih cocok dipandang sebagai alat kerja profesional, bukan kamera “aman” untuk semua kalangan.
Artikel berjudul Sony Alpha A7 V Resmi untuk Pasar Indonesia, Sensor Exmor RS CMOS Jadi Andalan yang ditulis oleh Christopher Louis pertama kali tampil di Gizmologi.id
🔗 Sumber: www.gizmologi.com
🤖 Catatan TOPINDIATOURS
Artikel ini adalah rangkuman otomatis dari beberapa sumber terpercaya. Kami pilih topik yang sedang tren agar kamu selalu update tanpa ketinggalan.
✅ Update berikutnya dalam 30 menit — tema random menanti!